Wednesday, July 9, 2025

Air Tawar di SMAN 1 Sapeken: Inovasi Kecil yang Mengubah Wajah Pendidikan

 


Di ujung timur Pulau Madura, tersembunyi sebuah kisah sederhana namun menginspirasi dari SMAN 1 Sapeken. Berdiri sejak tahun 2002 di wilayah kepulauan yang terpencil, sekolah ini selama lebih dari dua dekade bergumul dengan satu persoalan mendasar: kekurangan air tawar. Air asin menjadi bagian dari keseharian siswa—bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan. Air yang tersedia selama ini bersumber dari sumur dengan kadar garam tinggi. Tidak hanya mengganggu kenyamanan saat beribadah dan kegiatan belajar mengajar, tapi juga membuat aktivitas dasar seperti menggunakan toilet menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. "Saya tidak ikut salat berjamaah karena air wudhunya asin, bikin mata perih," ujar seorang siswa kepada guru mereka. Saya ijin mau pulang untuk ke kamar mandi ujar siswa yang lain. Keluhan sederhana itu menjadi titik balik yang memicu lahirnya inovasi besar dari sekolah kecil ini.

 

Masalah yang Terabaikan

 

Masalah air asin di SMAN 1 Sapeken bukan hal baru. Namun selama ini, kondisi itu diterima sebagai "kenormalan" hidup di pulau. Siswa terbiasa pulang ke rumah hanya untuk buang air, bahkan membeli air mineral untuk keperluan sanitasi pribadi. Ini tidak hanya menurunkan kenyamanan, tetapi juga mengganggu proses belajar.

Melihat urgensi tersebut, kepala sekolah bergerak cepat. Keluhan siswa diverifikasi kepada warga sekolah lain, hingga akhirnya diputuskan bahwa masalah ini tak bisa dibiarkan.

Dari Musyawarah Hingga Gotong Royong

 

Solusi dimulai dari hal paling sederhana: rapat guru. Dalam musyawarah, disepakati bahwa sekolah perlu mencari sumber air tawar yang bisa dimanfaatkan. Kepala sekolah bersama tim kemudian melakukan penjajakan ke masyarakat sekitar, dan sambutan pun tak terduga: tujuh warga bersedia menawarkan sumur pribadi mereka untuk digunakan sekolah.

Setelah melalui seleksi, satu sumur terbaik dipilih. Lokasinya strategis, dan kualitas airnya paling layak untuk kebutuhan sekolah.

Tanpa menunggu bantuan besar, sekolah membeli pipa paralon dan memanfaatkan mesin pompa air lama (Sanyo) yang ada. Proses pemasangan dilakukan secara gotong royong antara guru, siswa, dan warga sekitar.


Hasilnya? Untuk pertama kalinya dalam 23 tahun, air tawar mengalir di sekolah.

 

 

 

Perubahan yang Nyata

 

Inovasi ini bukan hanya soal air. Ini tentang mengembalikan martabat siswa dalam menjalani kehidupan sekolah.

   Siswa kini nyaman beribadah.

   Tidak ada lagi izin mendadak untuk pulang ke rumah karena ingin ke toilet.

   Kegiatan belajar-mengajar berjalan lebih lancar.

   Kebersihan sekolah meningkat drastis.

   Banyak tanaman hias yang mulai hidup

   Dan yang terpenting: partisipasi warga dalam pendidikan terasa nyata.

 

Memanusiakan Pendidikan

 

Inovasi pengadaan air tawar ini mungkin tampak sederhana di mata luar. Tapi di Sapeken, ini adalah lompatan besar. Ia menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai dan kurikulum, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap kebutuhan dasar anak-anak.

Kepala sekolah menyebutnya sebagai upaya untuk memanusiakan pendidikan, sebuah frasa yang mungkin terlalu sering didiskusikan namun jarang keberpihakannya pada hari ini.

SMAN 1 Sapeken berharap langkah kecil ini bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain, khususnya di daerah-daerah kepulauan dan  terpencil yang menghadapi tantangan serupa. Karena sejatinya, inovasi bukan soal teknologi tinggi, tetapi tentang keberanian untuk peduli terhadap mahluk hidup dan alam sebagai ciptaan Allah SWT.

 

Penulis: Fujianto, S.S., M.Pd

 

Kepala Sekolah SMAN 1 Sapeken

Friday, May 23, 2025

SMAN 1 Sapeken Sabet Juara 3 Sepak Bola Tingkat Pelajar SMA/SMK Se-Kabupaten Sumenep

 SMAN 1 Sapeken sangat luar biasa, setelah 23 tahun absen pada tahun ini berhasil merebut juara 3 sepak bola tingkat pelajar SMA/SMK Se-Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Pada juara grup B, berhasil mengalahkan pertandingan pertama dengan SMKN 1 Sumenep score 1 – 1. Pertandingan ke dua dengan SMAN 1 Sumenep dengan score 3-2. Saat masuk 8 besar bertemu lagi dengan SMKN 1 Sumenep dg score 5 – 3 (adu finalti).
Sehingga masuk 4 besar. Saat masuk 4 besar bertemu dengan SMAN 1 Arjasa dan kalah 2-0, sehingga otomatis SMANAR masuk final dan SMAKEN masuk sebagai juara 3.

“Ini adalah prestasi yg luar biasa karena selama 23 tahun mulai berdirinya SMAN 1 Sapeken baru sekarang ikut lomba sepak bola tingkat Kabupaten dan langsung sebagai juara 3,” ujar Kepala SMAN 1 Sapeken Sumenep H. Rudy Suwandono, S.Ag., M.Pd. Minggu (11/5).




Saat pertandingan berlangsung, SMAN 1 Sapeken sudah ditakuti oleh lawan-lawannya karena talenta anak Sapeken yang tidak diragukan lagi.

Hal itu terbukti bisa membabat sekolah-sekolah daratan dan berhasil menyabet juara 3 setelah bertahun-tahun absen dalam kompetes sepak bola ini.

“Ini semua adalah kerja keras dari seluruh pemain dan coach Ardian Ya’qub dibantu oleh Fajar Efendi, Feri Mediyanto serta Tim Wakasek Kesiswaan Adib, Jamil, Farah serta dukungan seluruh dewan Guru Tas, murid SMAKEN, seluruh masyarakat Pulau Sapeken dan sekitarnya serta tak kalah dukungan yang luar biasa Pak Camat, Pak Kades serta Pak H Dul Siam Wakil DPRD Kabupaten Sumenep yang berasal dari Pulau Sapeken,” lanjut Kepsek SMAKEN.

Baginya juga, dengan yang dicapai oleh SMAKEN kini, sejarah baru untuk masyarakat Pulau Sapeken yang disambut dengan antusias atas prestasi yang ditorehkan oleh pemuda-pemuda bertalenta dibidang sepak bola ini.

“Semoga ke depannya SMAN 1 Sapeken dapat membawa Piala Thropy Juara 1 Sepak Bola antar Pelajar SMA/SMA Se Kabupaten Sumenep ke Sapeken sebagai hadiah dan kado terindah untuk masyarakat Sapeken,” pungkas Kepala SMAN 1 Sapeken Sumenep H. Rudy Suwandono.

Saturday, February 1, 2025

PHRASAL VERBS AND IDIOM


Check Your Vocabulary 
workbooks are aimed at learners of English who want to build vocabulary in a specific area. Check Your English Vocabulary Phrasal Verbs and Idioms is a new title in the range which focuses on an extremely important, yet difficult, area of study for learners. Phrases such as 'go with the flow' or 'hang around' form a natural part of native English speakers' speech; however, they present the learner with a tall order - having to master distinctive expressions whose meaning cannot be deduced from the meaning of their actual words. Containing a range of word games, quizzes and exercises, this workbook will help build vocabulary confidence in a fun, memorable way


DOWNLOAD DISINI

Thursday, January 9, 2025

Mempermudah Belajar Bahasa Arab dengan Menerapkan Metode Belajar sambil Bermain

 Belajar bahasa Arab seringkali dianggap sebagai tantangan besar, terutama bagi banyak orang yang berbahasa Indonesia. Perbedaan signifikan dalam huruf, tata bahasa, dan pengucapan menciptakan rintangan yang tidak mudah dilalui oleh para pelajar. Untuk lebih memahami tantangan ini, berikut wawancara Pemred MaduraNetwork, Moh. Rasul Junaidy dengan Ketua MGMP Bahasa Arab Prov. Jatim, H. Fujianto, M.Pd.

 

Ada anggapan belajar bahasa Arab itu sulit?

Benar, anggapan bahwa belajar bahasa Arab itu sulit memang sering ditemukan. Hal ini muncul karena adanya perbedaan yang cukup signifikan antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia, baik dari segi huruf, tata bahasa, maupun pengucapan. Misalnya dalam penulisan huruf dalam bahasa Arab mulai dari kanan sedangkan dalam bahasa Indonesia mulai dari kiri.

 

Apa faktor utama yang mempengaruhi pandangan tersebut?

Menurut saya, faktor utama yang mempengaruhi pandangan tersebut ada dua. Pertama, faktor internal termasuk pengalaman minim belajar bahasa Arab, kompotensi kebahasaan yang minim, sulitnya membaca dan memahami arti dari setiap kosa kata bahasa Arab serta motivasi yang masih rendah. Perbedaan aksara dan struktur kalimat yang tidak biasa juga membuat bahasa Arab tampak menantang. Kedua, faktor eskternal, termasuk dukungan keluarga dan lingkungan siswa, metode pembelajaran yang kurang menarik, kurangnya media pembelajaran yang digunakan dan adanya anggapan bahwa bahasa Arab hanya digunakan untuk keperluan agama sehingga membuat anak didik kurang termotivasi untuk belajar lebih luas.

 

Selain itu, apa saja kendala yang sering dihadapi anak didik?

Kendala yang sering dihadapi anak didik dalam belajar bahasa Arab, pertama pengucapan yang berbeda. Bunyi beberapa huruf dalam bahasa Arab tidak ada dalam bahasa Indonesia, seperti 'ain (ع) dan 'qaf' (ق). Kedua, kosakata yang terbatas. Banyak anak didik yang kesulitan menghafalkan kosakata baru, apalagi jika tidak memiliki konteks yang jelas. Ketiga, tata bahasa yang kompleks. Nahwu dan shorof dalam bahasa Arab memiliki aturan yang cukup rumit untuk dipahami oleh pemula.

 

Lalu, bagaimana Anda membantu mereka mengatasinya?

Untuk mengatasi kendala ini, saya menggunakan pendekatan yang bertahap. Pertama, saya mengajarkan pengucapan melalui latihan fonetik secara berulang dengan bantuan audio. Kedua, saya memperkenalkan kosakata dengan menggunakan gambar, benda konkret, atau permainan agar anak didik lebih mudah mengingat. Ketiga, untuk tata bahasa, saya memfokuskan pada struktur kalimat dasar terlebih dahulu sebelum memperkenalkan aturan-aturan yang lebih rumit dan komplek.

 

Ada metode lain agar pembelajaran bahasa Arab lebih menyenangkan?

Saya menerapkan metode "belajar sambil bermain" untuk membuat pembelajaran bahasa Arab lebih menyenangkan. Beberapa metode yang saya gunakan antara lain, permainan bahasa seperti tebak kata atau kartu kosakata, pembelajaran berbasis lagu. Anak didik belajar kosakata dan kalimat sederhana melalui lagu-lagu Arab, penggunaan teknologi, Aplikasi pembelajaran bahasa Arab yang interaktif saya gunakan sebagai sarana untuk latihan mandiri siswa di rumah serta role play atau bermain peran, anak didik mempraktikkan bahasa Arab dalam situasi sehari-hari, seperti berbelanja atau memperkenalkan diri.

 

Bagaimana respon atau pengaruhnya dengan metode tersebut?

Anak didik menjadi lebih antusias dan tidak lagi merasa bahwa belajar bahasa Arab adalah sesuatu yang membosankan. Dengan adanya metode belajar yang variatif, mereka terlihat lebih percaya diri dalam mengucapkan kata-kata Arab dan menggunakan kalimat sederhana. Selain itu, suasana kelas menjadi lebih hidup, dan siswa cenderung aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. Dan yang menjadi spesial adalah anak didik bangga belajar bahasa Arab dan mengunggah karya video percakapan mereka di media sosial masing-masing.


Apa jenis materi atau sumber yang dianggap paling efektif?

Materi yang saya anggap paling efektif adalah yang bersifat kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari anak didik. Seperti buku pegangan siswa yang disusun secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari anak didik, buku cerita pendek yang menggunakan bahasa Arab sederhana dan video animasi dalam bahasa Arab dengan subtitle untuk pemahaman lebih baik serta materi berbasis tema. Misalnya, tema keluarga, sekolah, atau makanan, sehingga siswa belajar bahasa Arab dalam konteks yang mereka kenali.

 

Selain metode yang Anda sebutkan tadi, apa punya cara lain agar siswa lebih bersemangat belajar bahasa Arab?

Saya selalu berusaha menunjukkan manfaat praktis dari belajar bahasa Arab, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk masa depan. Saya juga mengaitkan bahasa Arab dengan agama bahwa belajar bahasa Arab akan mendapatkan pahala karena belajar bahasa Alquran. Saya juga memberikan penghargaan bagi siswa yang aktif berpartisipasi atau menunjukkan kemajuan, seperti dengan memberikan poin tambahan dalam penilaian. Selain itu, saya mencoba mengaitkan pembelajaran bahasa Arab dengan budaya dan seni, seperti kaligrafi Arab atau musik Arab, sehingga siswa dapat menikmati aspek budaya sambil belajar bahasa.

 

Anda punya indikator untuk mengevaluasi perkembangan anak didik?

Ya, saya menggunakan beberapa indikator untuk mengevaluasi perkembangan anak didik, antara lain, kemampuan membaca dan menulis huruf hijaiyah dengan benar, penguasaan kosakata dasar yang diajarkan, kecakapan menyusun kalimat sederhana dalam bahasa Arab, keterampilan berbicara dalam bahasa Arab dalam konteks percakapan sehari-hari. dan pemahaman mendengarkan (listening comprehension), mengukur seberapa baik mereka memahami kata-kata dan kalimat dalam percakapan lisan.

 


Fujianto (kanan) bersama Kadis Pendidikan Provinsi Jatim, Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M..

Harapan Anda ke depan soal pembelajaran bahasa Arab ?

Harapan saya adalah agar pembelajaran bahasa Arab di sekolah dapat berkembang menjadi lebih inklusif dan menarik bagi semua siswa, terlepas dari latar belakang agama dan budaya mereka. Saya berharap bahasa Arab dapat dipandang sebagai bahasa komunikasi internasional yang memiliki banyak manfaat praktis, baik untuk tujuan akademik, profesional, maupun sosial. Upaya meningkatkan minat siswa dapat dilakukan melalui pendekatan kreatif, seperti integrasi teknologi dalam pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler berbasis bahasa Arab. Dengan begitu, siswa dapat mencintai bahasa Arab bukan hanya sebagai kewajiban belajar, tetapi sebagai keterampilan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk masa depan mereka. (*)

Wednesday, January 1, 2025

Belajar Bahasa Arab Itu Mudah!

 Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua di dunia dengan sejarah panjang dan warisan budaya yang kaya raya. Bahasa Arab juga menjadi bahasa resmi di banyak negara dan digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Bagi banyak orang, belajar bahasa Arab mungkin terasa sebagai tantangan, terutama jika memulainya dari nol.



Namun demikian, menurut Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Arab Provinsi Jatim, H Fujianto, M.Pd, dengan metode yang tepat dan disiplin, belajar bahasa Arab dapat menjadi proses yang cepat dan menyenangkan. ”Langkah pertama adalah mengenal huruf-huruf hijaiyah. Bahasa Arab memiliki 28 huruf yang ditulis dari kanan ke kiri,” katanya.

 

Salah satu ciri khas bahasa Arab, lanjutnya, adanya variasi dalam bentuk huruf tergantung pada posisinya dalam kata awal, tengah, atau akhir. Untuk mempermudah proses ini, luangkan waktu mempelajari alfabet Arab secara bertahap, misalnya dengan memulai dari 5 -10 huruf sampai tuntas,” jelas Fujianto.

 

Selain itu, Fujianto menerangkan bahwa fonetik bahasa Arab memiliki bunyi yang mungkin asing bagi penutur bahasa lain, terutama bunyi dhad (ض). ”Dengan menggunakan aplikasi pembelajaran bahasa Arab yang dilengkapi dengan audio akan bisa membantu mengenali cara pengucapan yang tepat,” ujarnya.

 

Langkah berikutnya, setelah memahami huruf-huruf hijaiyah adalah dengan mulai belajar kosakata dasar. ”Fokuskan pada kata-kata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari seperti salam, kata benda umum seperti rumah, buku, pintu, dan kata kerja dasar seperti makan, minum, pergi,” katanya.


Dijelaskan dia, salah satu metode yang efektif adalah menggunakan flashcard atau aplikasi pembelajaran yang memiliki fitur latihan kosakata. ”Dengan menghafal 10 - 15 kata per hari, dalam waktu singkat, Anda akan memiliki perbendaharaan kata yang cukup untuk memulai percakapan sederhana,” jelasnya.

 

Selanjutnya memahami struktur dasar kalimat dan tata bahasa atau nahwu sorrof. Dijelaskan Kepala Sekolah SMAN 1 Sapeken, Sumenep ini, bahasa Arab memiliki struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia atau Inggris, tetapi prinsip dasarnya tetap sama, ada subjek, predikat, dan objek.

 

”Dalam kalimat dasar, biasanya kata kerja (fi’il) ditempatkan di awal, diikuti oleh subjek (fa’il) dan objek (maf’ul bih). Contoh kalimat sederhana seperti "نَصَحَ الْأُسْتَاذُ الطَّالِبَ" (guru laki-laki menasehati murid laki-laki). Memahami pola dasar ini akan memudahkan dalam merangkai kalimat lebih kompleks di kemudian hari,” jelasnya.

 

Sementara di era digital seperti sekarang, belajar bahasa Arab menjadi lebih mudah berkat banyaknya aplikasi yang tersedia. Aplikasi seperti duolingo, mondly, atau memrise yang menawarkan latihan bahasa Arab dari level dasar hingga mahir.

 

Fuji yang aktif menulis ini menerangkan bahwa mendengarkan dan menonton konten berbahasa Arab diaggap penting. ”Selain belajar dari buku dan aplikasi, cara yang efektif untuk belajar bahasa Arab adalah dengan sering mendengarkan percakapan atau menonton video berbahasa Arab,” katanya.

 

Dia mencontohkan menonton film atau serial Arab dengan subtitle bisa membantu memahami cara penggunaan kosakata dalam konteks. ”Jika suka musik, coba dengarkan lagu-lagu Arab dan coba terjemahkan liriknya. Ini akan melatih pendengaran dan memperkaya kosakata secara alami,” terangnya.

 

setelah itu Fujianto menyarankan agar mempratekkan berbicara dengan native speaker. ”Cara tercepat untuk belajar bahasa Arab selain mempraktikkannya secara langsung, mencoba berbicara dengan penutur asli bahasa Arab, baik secara tatap muka maupun melalui platform online seperti HelloTalk.


Berbicara dengan native speaker akan membantu meningkatkan kepercayaan diri dalam berbicara, memperbaiki pengucapan, dan mempelajari idiom atau ekspresi yang tidak ditemukan dalam buku,” ujar instruktur Nasional Program Peningkatan Pembelajaran (PKP) Bahasa Asing tahun 2019.

 

.Tak hanya itu, Fujianto juga menyarankan mengikuti kursus formal di lembaga bahasa atau pesantren. ”Kalau memungkinkan bisa kursus. Ini bisa memberikan bimbingan langsung dari pengajar yang berpengalaman.

 

Kursus ini biasanya menawarkan kurikulum yang terstruktur, mulai dari pemahaman dasar tata bahasa hingga latihan percakapan. Selain itu, belajar dalam kelompok memungkinkan untuk berinteraksi dengan teman sekelas, yang juga mempercepat proses belajar,” katanya.

 

Alumni pascasarjana UIN Malang tahun 2008 ini juga menekankan agar konsisten dan disiplin.  Seperti mempelajari bahasa apapun, konsistensi adalah kunci dalam belajar bahasa Arab.

 

”Luangkan waktu minimal 15 - 30 menit setiap hari untuk belajar. Ini jauh lebih efektif daripada belajar berjam-jam tetapi hanya sesekali. Dengan latihan yang konsisten, kemampuan bahasa Arab akan berkembang lebih cepat dari yang dibayangkan,” pungkasnya. (rba)